TENGGARONG - Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sesungguhnya menyimpan banyak potensi wisata yang menggiurkan dalam meningkatkan pendapatan daerah. Sayangnya, sebuah aset besar yang terletak di Jalan Anggana, Desa Panji, Kecamatan Tenggarong saat ini memperoleh nasib buruk. Taman Replika Kerajaan Nusantara serta Monumen Dunia yang dibangun pada tahun 2015 dengan dana sangat besar melebihi Rp 23 miliar kini tidak terawat dan keadaannya semakin memburuk.
Kekecewaan besar ini mendorong anggota komite IV DPRD Kutai Kartanegara dari partai PDI Perjuangan, Fatlon Nisa, melakukan inspeksi langsung terhadap obyek wisata yang ditinggalkan tersebut pada hari Minggu (28/6/2026) pagi. Selama kunjungan ke tempat yang bersebelahan dengan Museum Kayu serta Bendungan Panji Tenggarong itu, Fatlon tidak pergi sendiri. Dia nampak didampingi oleh bekas bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari.
Fatlon menyatakan bahwa perbaikan dan pemeliharaan area tersebut harus secepatnya dilanjutkan oleh pemerintah setempat. Meski situasi keuangan daerah saat ini masih menghadapi kendala dalam hal efisiensi anggaran, menurutnya, pemeliharaan pokok tetap dapat terlaksana. Tanah dan gedung-gedung yang telah berdiri megah sayang sekali jika dibiarkan tanpa perhatian, karena bila kembali diakses publik, tempat ini bisa menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah baru bagi Kota Raja.
Observasi langsung di lokasi menampilkan keadaan taman yang sangat menyedihkan dan membuat prihatin. Beberapa sarana pendukung, seperti gazebo untuk beristirahat para pengunjung, sebagian besar sudah hancur berat. Yang lebih ironis lagi, kerusakan bukan hanya disebabkan oleh proses penuaan serta kurangnya pemeliharaan, tetapi juga akibat seringnya pencurian bahan-bahan konstruksi oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Kondisi taman terlihat sangat memilukan dan mengundang rasa kasihan. Banyak fasilitas penunjang, misalnya gazebo sebagai tempat duduk bagi pengguna taman, saat ini dalam keadaan rusak parah. Hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh masa pakai yang lama dan minimnya perawatan, namun juga dikarenakan banyaknya tindakan penyiksaan struktur bangunan oleh individu-individu tanpa tanggung jawab. Tampak dari hasil pantauan dilokasi bahwa situasi taman cukup memprihatinkan. Berbagai perlengkapan tambahan, termasuk gazebo untuk istirahat pengunjung, mayoritas sedang dalam kondisi rusak hebat. Sungguh aneh, kerusakan itu tidak hanya muncul karena waktu dan kurangnya maintenance, tapi juga akibat aktivitas pembajakan material gedung oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab.
Gambaran serupa dapat dilihat pada beberapa replika bangunan bersejarah yang menjadi pusat perhatian utama lokasi tersebut. Replika Kedaton Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura, Candi Tikus kerajaan Majapahit, Candi Mahligai dari Kerajaan Sriwijaya, Istana Kerajaan Tanjung Palas, serta Istana Gunung Tabur saat ini mulai rusak. Bahkan, ikon dunia seperti replika Menara Eiffel dan Menara Miring Pisa kini nampak memprihatinkan di tengah rimbunnya semak belukar dan tumpukan limbah kemasan makanan yang menyebar.
Fatlon memberikan peringatan kepada pemerintah agar jangan sampai aset daerah tersebut dibiarkan terlantar hingga kondisinya makin rusak atau malahan hilang sama sekali. Dia menegaskan bahwa pembangunan sarana ini dilakukan dengan anggaran APBD Kutai Kartanegara yang berasal dari uang rakyat, oleh karena itu sangat penting untuk dipelihara dan tidak boleh disia-siakan.
Sejalan dengan pernyataan itu, Rita Widyasari yang turut serta dalam kunjungan tersebut menyesali leninya arah kebijakan atau kemauan politik dari pemerintah daerah setelah masa jabatannya, sehingga membiarkan fasilitas ini terlantar. Sebenarnya, bila dikelola secara optimal, taman ini dipercaya dapat menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung yang datang ke Tenggarong. Mantan Bupati Kutai Kartanegara ini berharap pada masa depan akan ada calon investor yang tertarik memperhatikan dan melestarikan kembali obyek wisata ini agar dapat bertahan dan berkembang di masa depan. (*)
Post a Comment