ANTS Pada hari Senin pagi tanggal 29 Juni 2026, Auditorium Kampus II Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang berlokasi di Romangpolong, Kabupaten Gowa, menjadi tempat penyaksian perjalanan panjang yang telah dimulai lebih dari lima puluh tahun silam di sebuah desa sejauh 1.120 km dari Kota Makassar.
Pada podium akademis paling tinggi, Prof Dr Hj Nurlaelah Abbas Lc MA diresmikan menjadi Dosen Tetap Utama Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan konsentrasi keilmuan Teologi Agama Minoritas.
Beberapa orang mungkin menganggap gelar professor sebagai prosesi akademik biasa. Tapi bagi Nurlaelah Abbas, momen tersebut adalah puncak dari perjalanan seorang putri petani Bugis yang lahir dalam lingkungan kecil di pinggir sungai, besar di bawah kondisi terbatas, dan berhasil melalui berbagai wadah pengetahuan mulai dari Bangkir, Parepare, Mesir, Malaysia sampai Makassar.
Saat penganugerahan gelar doktor di Auditorium UIN Alauddin, Makassar, pada hari Senin tanggal 29 Juni 2026, yang berdiri bukan hanya seorang ilmuwan. Turut bangkit juga bayangan seorang petani Bugis bernama Abbas, seorang penenun bernama Jawariah, para pendidik dari Ponpes Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI), dosen-dosen di Kairo maupun Malaysia, serta sebuah desa kecil bernama Bangkir yang pernah membuktikan bahwa kesederhanaan tak pernah jadi hambatan untuk mengejar impian-impian besar.
Perantau dari Wajo
Sejarah senantiasa menunjukkan bahwa jalannya menjadi seorang ahli besar tidak selalu bermula dari kota-kota metropolitan. Terkadang, perjalanan itu dimulai dari pinggir sungai, dari sebuah rumah panggung kecil, serta dari seorang putra desa yang memutuskan untuk terus melanjutkan pendidikannya tanpa menghentikan proses pembelajaran.
Bangkir, terutama Desa Puse, kemungkinan masih cukup asing bagi kebanyakan pembaca artikel ini. Namun bagi Prof Nurlaelah Abbas, Puse dan Bangkir merupakan bagian dari jiwanya dan hatinya. Bukan hanya sekadar nama desa atau dusun yang ada di Toli-toli, Sulawesi Tengah.
"Orang tua saya lahir di Wajo. Saya bersama saudara-saudara saya lahir di Desa Puse, Bangkir, Sulawesi Tengah," ujar Prof Nurlaelah Abbas saat menjawab pertanyaan dari Tribun Timur.
Matanya sesekali basah saat Pak Nuelaelah bercerita mengenai kampung halamannya serta kedua orang tuanya. Sang penulis juga sering merasakan gatal-gatal di kulitnya ketika mendengarkan cerita itu. Merasa tersentuh secara emosional.
Profesor Nurlaelah adalah salah satu dari sebelas bersaudara. Enam orang di antaranya lahir di Wajo, sedangkan lima lainnya lahir di Bangkir, termasuk Nurlaelah sendiri.
Bapak Profesor Nuraella, Abbas Daeng Mabbarran Pong Bese, lahir di Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan. Ibu Profesor Nurul Aela, Jawariah, dilahirkan di Desa Liu, Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo.
Untuk menaikkan kualitas hidup keluarga serta menghadapi perasaan puitis yang ada di dalam hatinya, Abbas berangkat menuju Bangkir.
Jarak darat antara Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan, dengan Desa Bangkir yang terletak di Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah kurang lebih mencapai 950 kilometer.
"Sepanjang masa tinggal di Desa Bangkir, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Buol-Tolitoli, lahir seorang anak perempuan pada hari Selasa malam tanggal 9 Desember tahun 1962 dengan nama Nurlaelah. Inilah diriku," ujar Profesor Nurlaelah.
Ia mampu menghafalkan dengan baik rangkaian peristiwa kehidupannya serta keluarganya. Pakar Nurlaelah tekun merekam momen-momen penting dalam hidupnya. Bahkan ia telah menyusun biografi yang bertajuk Jejak Langkah Menuju Guru Besar.
"Rumah orang tua tempat kami tumbuh dan besar berada dalam area yang rentan banjir. Lokasinya berdekatan dengan aliran sungai serta dikelilingi lahan persawahan di Dusun Puse, Desa Bangkir, yang sekarang sudah menjadi sebuah desa mandiri dan tidak lagi tergabung dalam wilayah Bangkir," ujar Prof Nurlaelah.
Kota Sungai Puse, Tempat Pertama Seorang Guru Besar Mengajar Desa Sungai Puse, Awal Mula Kehidupan Seorang Dosen Asal Usul Seorang Pakar di Kota Sungai Puse Tempat Lahirnya Seorang Akademisi di Daerah Sungai Puse Awal Karier Ilmuwan dari Wilayah Sungai Puse
Sebelum memasuki dunia kelas perkuliahan, jurnal akademik, serta forum para dosen, Nurlaelah Abbas lebih dulu mengenal Sungai Puse. Ia pernah berhadapan dengan ular piton.
Sungai melewati rumah kayu sederhana milik keluarganya di Dusun Puse, Desa Bangkir, Tolitoli. Bangunan ini terletak di pinggiran sungai dan dikelilingi lahan persawahan yang pada masa penghujan sering kali menjadi daerah rentan banjir. Saat air naik, ular sawah seringkali mendekati tempat tinggal mereka. Tetapi kedua orang tua mereka memiliki metode sederhana untuk menghadapi situasi tersebut. Mereka menernakkan ayam dan bebek dalam kandang dekat rumah agar perhatian ular justru tertarik pada ternak dibandingkan masuk ke dalam bangunan.
Itulah tempat di mana Nurlaelah kecil besar. "Masih saya ingat, setiap kali air sungai meluap, sering muncul ular sawah yang mendekati rumah. Alhamdulillah, orang tua punya akal cerdas untuk menghadapi situasi ini; mereka membawa ayam dan bebek masuk ke dalam kandang agar ular lebih fokus kepada hewan ternak itu dan tidak sampai masuk ke dalam rumah," tambah Profesor Nurlaelah.
Ia mencoba tersenyum. Mengangkat kepala. Seperti melihat kembali ke masa lalu, beberapa dekade yang lalu.
"Kini, tempat tersebut hanya tersisa sebagai kenangan, bersama sisa-sisa pohon kelapa, bamboo, dan pisang yang dulu tumbuh lebat sebagai tanda-tanda jejak kehidupan kami pada masa lampau," katanya.
Sungai Puse tidak hanya merupakan pemandangan alam biasa. Ia menjadi tempat bersenang-senang, lokasi untuk belajar, serta area pengembangan kepribadian. Bersama teman-temannya, Nurlaelah bermain permainan seperti bermain rumah-rumahan, memasak, mandi di sungai, meloncat dari tebing sungai, dan menangkap ikan dengan mengunakan wadah khusus yang dikenal sebagai mattanggo dalam bahasa lokal. Terkadang ia juga turut serta kakak-kakaknya melakukan aktivitas memancing di daerah persawahan yang dekat dengan air tawar. Melalui kegiatan sederhana ini, ia mulai mempelajari ketekunan saat menantikan umpan ditelan oleh ikan, serta menyadari bahwa hasil seringkali muncul dari sebuah proses yang cukup lama.
Anak-anaknya juga dipenuhi oleh adat istiadad maddongi, yaitu merawat burung agar tidak menyantap padi yang dikeringkan pada masa panen. Kehidupan desa memberinya makna tentang kerja keras, tanggung jawab, serta hubungan antara manusia dengan lingkungan alami.
Tetapi pelajaran paling berharga sebenarnya berasal dari ibunya.
Pada suatu hari saat ingin bermain, ibunya memberi peringatan, "Apabila kau melihat sesuatu di jalanan, bahkan hanya sebuah benang kecil, jangan ambil karena tidak termasuk hakmu dan nanti akan diminta pertanggung jawaban di akhirat."
Kalimat mudah itu terpatri jelas di benaknya. Pesan ini menjadi dasar ketulusan yang nantinya akan menemani jalannya sebagai seorang ilmuwan, guru, dan tokoh kepemimpinan.
Yang menarik adalah kedua orang tua mereka tidak pernah menerima pendidikan sekolah. Pengetahuan yang mereka miliki berasal dari kebiasaan keluarga, pengalaman hidup sehari-hari, dan ceramah-ceramah tokoh agama yang sering mereka ikuti di Sengkang. Meski tinggal di lingkungan biasa saja, dari tempat tersebut tumbuh nilai-nilai kepribadian yang pada beberapa aspek bahkan lebih kokoh daripada materi pembelajaran di dalam kelas.
Rumah yang Selalu Menerima Pengunjung Bangunan yang Tak Pernah Mengusir Tamu Tempat Tinggal yang Tetap Terbuka untuk Siapa Saja Kediaman yang Tidak Pernah Menutup Dirinya dari Para Tamu Rumah yang Senantiasa Bersedia Menerima Kehadiran Orang Lain Perumahan yang Tidak Pernah Menolak Kunjungan Sektor Perumahan yang Selalu Ramah pada Tamu Lokasi Hunian yang Tidak Pernah Menyembunyikan Diri dari Tamu Bukan Hanya Rumah, tapi Tempat yang Selalu Terbuka Penginapan yang Tak Pernah Menolak Siapa Pun
Rumah tempat tinggal Abbas dan Jawariah tidak termasuk rumah yang mewah.
Mereka menggantungkan hidupnya pada ladang, perkebunan kelapa, kopi, serta hasil pertanian hewan. Tetapi rumah tersebut menyimpan sesuatu yang sekarang mulai langka: pintu yang senantiasa terbuka untuk tamu-tamu asing.
Para pemuda asal Wajo, Soppeng, maupun Enrekang kerap berkunjung atau bahkan menetap selama beberapa bulan di rumah itu. Mereka datang untuk mencari pekerjaan serta kesempatan hidup yang lebih baik jauh dari kampung halaman mereka. Tidak ada biaya tambahan. Tidak ada persyaratan khusus. Mereka makan bersama anggota keluarga dan diterima seperti sanak saudara sejati.
Sampai mendekati hari Raya Idul Fitri, ibunya selalu menyediakan antara 10 sampai 20 liter beras ketan guna memasak tumbu', hidangan tradisional dari daerah Bugis yang diberikan kepada anggota keluarga serta tamu-tamu yang datang.
Kapal Layar Selama Tiga Belas Hari Tiga Belas Hari di Kapal Layar Lautan dan Tiga Belas Hari Petualangan Tiga Belas Hari di Laut Pelayaran yang Berlangsung Selama Tiga Belas Hari Dalam Perjalanan Selama Tiga Belas Hari Misi Tiga Belas Hari di Atas Air Sekitar Tiga Belas Hari Di Laut Jelajah Laut dalam Durasi Tiga Belas Hari Selama Tiga Belas Hari Mengarungi Laut
Terdapat sebuah perjalanan yang terlihat biasa saja, namun memiliki dampak besar dalam menentukan jalannya kehidupan Nurlaelah Abbas.
Pada tahun 1969, saat berusia kira-kira enam tahun, dia ikut serta dengan orang tuanya dan saudara-saudaranya dalam perjalanan dari Tolitoli ke tanah leluhurnya di Wajo, Sulawesi Selatan. Perjalanan tersebut tidak dilakukan dengan pesawat atau kapal laut yang canggih. Mereka menggunakan perahu layar tradisional.
Perjalanan biasanya memakan waktu beberapa hari kini berubah menjadi pengembaraan yang berlangsung selama tiga belas hari dan tiga belas malam. Angin timur yang bertiup dengan arah yang bertentangan menyebabkan layar kapal sering kali tertolak ke belakang.
"Perjalanannya berlangsung selama tiga belas hari dan tiga belas malam. Rute yang dilalui ternyata bertentangan dengan aliran angin dari laut, membuat layar kapal kerap kibas ke arah lawan. Akibatnya, perahu terdorong mundur, seperti tidak rela meninggalkan samudra yang keras pada masa angin timur. Setiap harinya bergulir di tengah lautan," kata Prof Nurlaelah.
Gelombang, sinar matahari terik, serta kekurangan pasokan logistik merupakan hal biasa bagi para penumpang. Bahkan persediaan makanan kadang sudah habis sebelum perahu sampai ke tempat tujuannya. Agar bisa bertahan hidup, beberapa penumpang melakukan pertukaran barang bawaan mereka dengan bahan pangan dari nelayan yang mereka temui di tengah lautan. Sementara itu, sejumlah orang lainnya melanjutkan aktivitas menangkap ikan langsung dari atap kapal.
Untuk seorang anak kecil, momen tersebut pasti sangat mengkhawatirkan.
Namun setelah beberapa dekade berlalu, pengalaman itu malah diingatinya sebagai pembelajaran mengenai keteguhan hati, kesabaran, serta kemampuan untuk bertahan di tengah situasi yang sulit.
Bisa jadi dari sana muncul seorang tokoh yang nantinya membuatnya bisa bertahan melalui berbagai tantangan akademis maupun hidup.
Ibu yang Tidak Pernah Mengutuk Ibu yang Selalu Maafkan Ibu yang Tak Pernah Bersalahkan Ibu yang Tidak Pernah Memaafkan Kesalahan Ibu yang Tetap Suka Meski Ada Kekeliruan Ibu yang Tidak Pernah Menyesali Apa Pun Ibu yang Terus-Menerus Memberi Pengertian Ibu yang Tak Pernah Meragukan Ibu yang Tidak Pernah Berhenti Percaya Ibu yang Selalu Memiliki Kasih Sayang Tanpa Syarat
Ketika pulang ke desa nenek moyangnya di Bila Ugi, Wajo, Nurlaelah kecil perlu menyesuaikan diri dengan gaya hidup yang berbeda.
Dia mengenali nasi jagung, pisang hijau yang dicampur beras, ikan gabus, bale cambang, serta rontok. Rontok merupakan hidangan tradisional Bugis, yaitu udang kecil yang dihancurkan bersama garam dan cabai. Sebagai seorang anak yang biasa hidup dalam pola makan yang berbeda di Bangkir, Nurlaelah pernah merasa tidak nyaman dan menyampaikan keluhan kepada ibunya sambil memohon untuk kembali ke desanya.
Tetapi di desa itu pula dia memperkenalkan dirinya dengan dunia pendidikan. Pada pagi hari, ia menempuh pelajaran di Sekolah Dasar Negeri Bila Ugi. Di sore harinya, ia berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk sampai ke Madrasah ArabiyahIslamiyah (MAI), awal dari As'adiyah. Di tempat tersebut, ia belajar bahasa Arab, membaca Al-Qur'an, serta mengenal tulisan Lontara Bugis.
Suatu kejadian kecil akhirnya berubah menjadi pembelajaran yang penting.
Pada suatu hari sore, setelah pulang dari Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), Nurlaelah kecil tidak langsung pergi bermain seperti biasanya. Dia duduk di tangga rumah panggung sambil menangis. Air matanya terus mengalir. Di kelas, dia baru saja jadi bulan-bulan teman-temannya lantaran membaca salah satu huruf Lontara.
Huruf "ta" diucapkan dengan bunyi "dal". Kesalahan kecil ini menggoncangkan rasa percaya diri sebagai seorang anak.
Jawariah, pergi keluar rumah. Alih-alih marah atau menyalahkan, dia malah duduk di sebelah anaknya, meremas kepala putrinya dengan penuh cinta, kemudian berbisik lembut, “Anakku, tak ada ilmu yang mudah di awal. Kegagalan merupakan bagian dari proses pembelajaran. Jika belajar secara serius, insyaallah akan berhasil.”
Kalimat tersebut mudah dipahami. Tetapi justru kalimat semacam ini yang kerap memengaruhi nasib seorang anak.
Jawariah tidak hanya memberikan nasehat saja. Ia langsung menghubungi keponakannya, Nursati, yang telah terlebih dahulu belajar di MAI, sehingga setiap sore ia mendampingi Nurlaelah dalam pembelajaran membaca dan menulis huruf Lontara.
Mulai dari saat itu, rasa takut berubah menjadi latihan. Latihan tersebut berkembang menjadi sebuah kebiasaan. Keberanian yang terbentuk melalui kebiasaan lama-kelamaan menjadi keterampilan.
Sayangnya, tulisan Lontara yang dulu menyebabkannya menangis kini akan menjadi pelajaran yang ia ajarkan saat belajar di Pondok Pesantren Putri DDI Ujung Lare Parepare. Bahkan ia ditunjuk untuk mengajarkan bahasa daerah sebagai bagian dari mata pelajaran pokok setempat.
Pergi Kembali Ke Tanah Air Untuk Menyempurnakan Ilmu
Setelah hampir dua tahun tinggal di Desa Bila Ugi, Wajo, kondisi hidup keluarga tersebut berlangsung seperti halnya keluarga-keluarga Bugis secara umum: sederhana dan rendah hati, namun penuh dengan harapan. Anak-anak mulai mengenyam pendidikan. Nurlaelah sudah duduk di kelas II Sekolah Dasar, sedangkan saudara perempuan mereka, Maryam, berada di kelas V, sementara Syamsul Alam terus melanjutkan studinya di SMP Negeri Salojampu.
Tetapi secara perlahan, realitas ekonomi mulai menunjukkan hal yang berbeda. Lahan pertanian yang dikelola oleh warga Wajo kini sulit memenuhi keperluhan keluarga yang semakin berkembang jumlah anggotanya. Pengeluaran untuk kehidupan meningkat, sedangkan tiga orang anak masih butuh biaya pendidikan. bagi Abbas, masalah ini bukan hanya urusan finansial belaka. Ini merupakan tantangan dalam menjaga impian supaya putra-putrinya dapat melanjutkan studi.
Pada saat itu dia membuat keputusan yang sulit. Abbas memutuskan untuk kembali bekerja di Tolitoli.
Untuk Abbas, menjadi seorang pekerja keras kali ini bukan hanya bertujuan mengembangkan dirinya sendiri. Ia bepergian dengan tujuan agar pendidikan putra-putrinya tetap bisa berlangsung tanpa terganggu.
Masih ada kebun kelapa, kebun kopi, serta persawahan di Tolitoli yang dahulu menjadi mata pencaharian bagi keluarga. Abbas yakin bahwa jika lahannya kembali dikelola dengan baik, hasilnya tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan keluarganya saja, tapi juga bisa menjadi bekal dalam membentuk masa depan anak-anaknya. Keputusan ini mencerminkan sebuah prinsip yang sering kali tak disampaikan secara lisan, namun benar-benar dilakukan: pendidikan memerlukan keteguhan hati dan kesediaan berkorban.
Tiga tahun setelahnya, harapan lama akhirnya tercapai. Nurlaelah sekarang sedang duduk di kelas III Sekolah Dasar. Rasa percaya dirinya berkembang, antusiasme dalam belajar semakin meningkat, serta kehidupan keluarganya mulai mendapatkan jalur yang lebih jelas. Pada saat itulah Jawariah memproses dokumen pindah sekolah lewat saudara iparnya, Siti Aisyah, yang juga merupakan guru dari Nurlaelah.
Pada tahun 1973, anggota keluarga besar tersebut akhirnya berpindah dari Bila Ugi ke Bangkir, mengikuti langkah Abbas dan Muhammad Arsyad yang sebelumnya sudah melakukan persiapan lengkap. Berbeda dengan perjalanan awal yang dilakukan dengan perahu layar selama kurang lebih dua minggu, kini mereka menggunakan kapal mesin. Perkembangan teknologi ternyata mampu mempercepat durasi perjalanan menjadi hanya tiga sampai empat hari saja.
Setelah tiba di Bangkir, rumah lamanya kini sudah berubah menjadi bangunan baru yang didirikan oleh Abbas beserta anaknya. Letaknya sengaja ditentukan di depan Pasar Bangkir agar anggota keluarga dapat lebih mudah mengelola usaha kecil serta memperoleh akses terhadap berbagai kegiatan perekonomian masyarakat.
SDN 2 Bangkir Mengidentifikasi Siswa Baru SDN 2 Bangkir Mendapatkan Peserta Didik Anyar SDN 2 Bangkir Menerima Murid Terbaru SDN 2 Bangkir Melakukan Pendaftaran Siswa baru SDN 2 Bangkir Meraih Calon Siswanya SDN 2 Bangkir Memperoleh Anak Didik Baru SDN 2 Bangkir Menyambut Murid Kehadiran Baru SDN 2 Bangkir Mengadakan Rekrutan Siswa Baru SDN 2 Bangkir Berhasil Mendata Siswa Tertentu SDN 2 Bangkir Menemui Para Pelajar Baru
Nurlaelah mulai diterima di Sekolah Dasar Negeri No. 2 Bangkir saat masih kecil. Sekolah tersebut memiliki kondisi biasa saja, seperti kebanyakan SD di wilayah tersebut pada awal tahun 1970-an. Kelas-kelasnya menggunakan dinding dari kayu, lapangan sekolah digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara serta area bermain anak-anak, sedangkan guru-gurunya mengajar dengan antusiasme yang melebihi keterbatasan sarana dan prasarana yang tersedia.
"SDN No 2 Bangkir pada masa itu dikomando oleh seorang kepala sekolah yang terkenal ketat dan memiliki dedikasi tinggi, yaitu Bapak Salim Mahmud. Walaupun saya sedang berusaha beradaptasi dengan teman-teman baru serta lingkungan yang berbeda dari sebelumnya, saya masih merasa senang karena tidak hanya diajarkan berbagai pelajaran ilmu pengetahuan, tapi juga dilengkapi beberapa kemampuan seperti menari, bernyanyi, memasak, serta cara menghormati tamu melalui buku PKK yang diberikan," kata Nurlaelah.
Sama seperti biasanya di Wajo, pagi digunakan untuk pembelajaran umum. Tapi pada siang harinya, aktivitas dialihkan ke pendidikan agama di Madrasah Ibtidaiyah Darud Da'wah wal Irsyad (DDI) Bangkir, dibimbing oleh Ustaz Abdul Latief Nashar, tokoh agama yang memiliki pengaruh besar dalam lingkungan masyarakat. Rutiin ini terus berjalan hampir tiap hari: pagi mengikuti pelajaran sains dan pengetahuan, sore fokus pada pemahaman lebih mendalam tentang agama, lalu malamnya pulang ke rumah guna menerima arahan dari orang tua.
Mulai dari masa SD, Nurlaelah hampir terus-menerus berada di posisi puncak dalam kelasnya. Prestasi yang dimilikinya tidak hanya diketahui oleh teman-temannya, tapi juga mendapat apresiasi dari para pengajar. Kepala Sekolah Salim Mahmud akhirnya membuat kebijakan yang langka.
Walaupun Nurlaelah sedang berada di kelas V, dia ditunjuk untuk mewakili Kecamatan Dampal Selatan dalam Ujian Teladan kabupaten Tolitoli, suatu kompetisi yang umumnya diikuti oleh para siswa kelas VI saja.
Nurlaelah sukses mendapatkan juara ketiga pada tingkat kabupaten Tolitoli. Prestasi ini bukan saja membawa kebanggaan bagi keluarga Abbas serta Jawariah, namun juga menjadi sumber bangga bagi warga Bangkir. Dari sebuah dusun kecil di tepi pantai Tolitoli, lahir seorang putri yang mampu menghadapi persaingan dengan para pelajar unggulan dari berbagai kecamatan.
Mempertimbangkan Sekolah Pengajian antara Dua Opsi
prestasi itu berdampak yang lebih luas. Mengingat kemampuan akademisnya melebihi tingkat rata-rata, pihak sekolah memutuskan untuk menyelesaikannya lebih awal agar bisa menghadapi ujian akhir bersama murid-murid kelas VI. Hasilnya lagi-lagi menunjukkan bahwa keputusan dari guru-guru tersebut tepat sasaran. prestasi ini memiliki dampak yang lebih signifikan. Berdasarkan kapasitas akademinya yang di atas rata-rata, sekolah memilih menganugerahkan lulusan lebih dini sehingga dapat ikut dalam ujian akhir bersama peserta didik kelas VI. Bukti hasilnya kembali memberi bukti bahwa putusan para pengajar tak salah arah. kesuksesan ini menyebabkan implikasi yang lebih mendalam. Dengan bakat akademiknya yang jauh melampaui rerata, institusi pendidikan membuat kebijakan untuk menuntaskan studinya lebih cepat guna mengikuti ujian akhir dengan pelajar kelas VI. Pencapaian selanjutnya semakin memperkuat keyakinan bahwa langkah guru-guru benar adanya.
Nurlaelah keluar sebagai juara pertama. Dalam upacara pelepasan sekolah, dia diberi tugas untuk membawakan pidato mewakili semua siswa yang lulus. Di depan para guru, orang tua, serta warga masyarakat, anak perempuan dari Bangkir ini berdiri tidak hanya sebagai siswi paling unggul, tapi juga menjadi lambang harapan bahwa batas-batas geografis tidak akan menghalangi pencapaian kesuksesan.
Namun justru setelah segala kesuksesannya tersebut, keluarga Abbas menghadapi suatu pilihan yang jauh lebih penting daripada seluruh tantangan di sekolah.
Di manakah Nurlaelah seharusnya melanjutkan studinya? Salim Mahmud berkeinginan agar murid paling unggulnya meneruskan sekolah ke jenjang SMP sehingga kemampuannya di bidang ilmu pengetahuan dan matematika semakin bertambah. Namun, Ustaz Abdul Latief Nashar memandang potensi yang berbeda. Ia merasa bahwa Nurlaelah memiliki bakat luar biasa dalam hal ilmu agama serta bahasa Arab. Lokasi ideal bagi pengembangan minat tersebut ialah Ponpes DDI Putri Ujung Lare Parepare.
Menariknya, Abbas dan Jawariah tidak memaksa pendapat anak mereka. Setelah melakukan pertimbangan matang, Nurlaelah memutuskan untuk mengambil jalur pondok pesantren. Keputusan ini sebenarnya menjadi awal dari sebuah perjalanan yang nanti akan membawanya meninggalkan Bangkir, melewati samudera arah ke Parepare, melanjutkan kuliah di Kairo serta Malaysia, lalu akhirnya pulang ke negeri sendiri dengan gelar Profesor di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.(*).
Post a Comment