Erwin Ardian
Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru
PEMANDANGAN Antrian panjang mobil pengangkut barang di berbagai stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU) kota Pekanbaru selama beberapa minggu belakangan menarik perhatian masyarakat.
Kendaraan truk dan mobil box tampak berbaris panjang hingga melebihi batas area pompa bensin, beberapa di antaranya hampir sampai ke persimpangan jalan besar.
Dari sudut pandang warga, situasi ini memunculkan pertanyaan utama: apakah suplai biosolar yang didukung subsidi di Riau mengalami kendala?
Perusahaan Pertamina Patra Niaga Wilayah Sumatera Bagian Utara menjelaskan bahwa suplai serta kuota biosolar di Provinsi Riau tetap tersedia seperti biasanya.
Selama bulan Juni 2026, distribusi Biosolar di Pekanbaru meningkat sekitar enam persen jika dibandingkan dengan rata-rata bulanan sebelumnya. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa masalah yang muncul tidak hanya disebabkan oleh pengurangan pasokan, tetapi juga akibat permintaan yang sangat tinggi dalam periode dan daerah tertentu.
Riau mempunyai peranan penting sebagai jalan utama pengangkutan di Pulau Sumatera. Ratusan ribu kendaraan angkut melewati wilayah ini tiap harinya guna menyebarkan barang ke berbagai kawasan.
Akibatnya, permintaan biosolar subsidi di SPBU kawasan Riau semakin besar dibandingkan daerah lain. Saat aktivitas perekonomian meningkat, beban pada penyediaan bahan bakar minyak bersubsidi juga turut naik.
Namun, masyarakat pasti mengukur masalah tidak hanya berdasarkan jumlah bensin yang tersedia dalam tangki simpanan, tetapi juga kesulitan atau kepraktisan mendapatkan BBM itu sendiri.
Bagi para sopir truk, antrian yang berlangsung selama satu jam setiap harinya masih menjadi persoalan besar. Waktu yang hilang saat mengisi bahan bakar menyebabkan penurunan efisiensi kerja, keterlambatan dalam pengantaran barang, serta naiknya biaya operasional logistik.
Peristiwa ini menunjukkan terjadinya selisih harga yang cukup besar antara Biosolar subsidi dan bahan bakar tidak subsidi. Harga sekitar Rp 6.800 per liter membuat Biosolar menjadi pilihan utama bagi pengemudi kendaraan logistik.
Di sisi lain, harga Dexlite dan Pertamina Dex yang mencapai tiga sampai empat kali lebih tinggi menyebabkan sejumlah pengusaha angkutan sulit menemukan pilihan yang lebih murah, sehingga mereka terpaksa masih mengantri untuk mendapatkan Biosolar.
Masalah lain yang patut diwaspadai ialah risiko penyimpangan dalam penerima manfaat subsidi. Jika antrian makin memanjang dan jumlah permintaan terus bertambah, penegakan kontrol atas pendistribusian Biosolar perlu lebih diperkuat.
Jangan sampai bantuan keuangan yang semestinya ditujukan kepada sejumlah bidang tertentu malah dirasakan oleh orang-orang yang tidak pantas atau digunakan secara salah alur.
Oleh karena itu, tindakan Pertamina dalam menambah suplai serta memaksimalkan armada pendistribusian layak mendapatkan apresiasi. Tetapi usaha ini masih kurang memadai bila tidak disertai dengan pengaturan antrian yang lebih efektif pada level pompa bensin.
Penggunaan sistem pendaftaran antrian secara digital, pengelolaan waktu kerja khusus bagi kendaraan angkutan barang, serta pembukaan jalur pengisian daya tambahan untuk kendaraan besar harus menjadi komponen dalam solusi sementara.
Di sisi lain, pemerintah daerah serta Pertamina harus melaksanakan penggambaran atau identifikasi yang lebih tepat mengenai lokasi-lokasi dengan tingkat konsumsi Biosolar tertinggi di Provinsi Riau.
Informasi ini bisa menjadi landasan untuk menyesuaikan distribusi secara lebih seimbang, sehingga stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU) yang terletak pada jalur logistik utama menerima suplai yang lebih banyak dibandingkan daerah dengan tingkat konsumsi biasa.
Mendatang, pengembangan berbagai jenis sumber daya energi untuk transportasi perlu segera dipertimbangkan dengan matang. Terlalu bergantung pada biosolar subsidi tetap akan menimbulkan masalah yang sama setiap kali kegiatan perekonomian mengalami peningkatan.
Pemenuhan kebutuhan energi alternatif yang lebih murah di kalangan industri pengangkutan bisa menjadi solusi dalam menekan beban dari program subsidi pemerintah.
Akhirnya, antrian yang membentang panjang di biosolar Pekanbaru mengajarkan makna penting bahwa kesuksesan penyaluran energi bukan sekadar ditinjau dari jumlah persediaan, melainkan juga dari kemudahan akses masyarakat dalam memperolehnya.
Matahari mungkin bisa diakses, namun apabila pengemudi perlu menyisihkan satu jam sehari hanya untuk menyalurkan bahan bakar ke dalam tangki, maka masih banyak hal yang perlu diperbaiki.
Pemerintah, Pertamina, serta semua pihak terkait harus menjaga agar jalannya distribusi barang tidak mengalami hambatan akibat antrian yang sulit terselesaikan. (*)
Post a Comment