Suhu 41°C Lumpuhkan Infrastruktur Eropa & Kebakaran Meluas

Ringkasan Berita:
  • Kekeringan yang sangat parah di Eropa memicu peningkatan jumlah korban jiwa, khususnya di Perancis, dengan sekitar 1.000 kematian lebih banyak dalam waktu tiga hari saja.
  • ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan Eropa adalah benua yang mengalami pemanasan terbesar di seluruh dunia dan melaporkan lebih dari 1.300 kematian akibat cuaca panas sejak tanggal 21 Juni 2026.
  • Panas ekstrem menyebabkan dampak yang merambah berbagai bidang, seperti kebakaran hutan, kilat listrik, gangguan dalam pelayanan kesehatan, serta rusaknya jalanan, rel kereta api, dan sistem transportasi.

ANTS– Kemunculan gelombang panas luar biasa yang menimpa beberapa negara Eropa mengakibatkan peningkatan jumlah korban jiwa, mencatatkan suhu terpanas dalam sejarah, dan memberikan dampak ke berbagai bidang seperti kesehatan maupun sistem transportasi.

Lembaga Kesehatan Publik Perancis melaporkan sekitar 1.000 kematian lebih lanjut selama tiga hari terakhir minggu ini karena cuaca ekstrem yang panas.

Pada waktu yang sama, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa Eropa sekarang merupakan benua yang mengalami pemanasan terpaling cepat di seluruh dunia.

Pencatatan suhu tertinggi di beberapa negara

Banyak negara di Eropa melaporkan kejadian cuaca terhangat dalam sejarahnya.

Jerman mengakhiri rekor dalam tiga hari beruntun dengan temperatur yang mencapai 41,7 derajat Celsius di Neubrandenburg, melebihi rekor lama sebesar 40,5 derajat Celsius.

Cekia juga merekam suhu terbesar dalam sejarahnya, yaitu 41,9 derajat Celcius, melebihi rekor sebelumnya yang berada di angka 40,9 derajat Celcius.

Studi singkat oleh World Weather Attribution yang dirilis hari Jumat (26/6/2026) menemukan bahwa gelombang panas dan lembap tinggi yang terjadi minggu lalu nyaris mustahil terjadi tanpa dampak perubahan iklim.

Ahli-ahli mengatakan keadaan ini sangat sulit terjadi 50 tahun yang lalu, sedangkan saat ini kemungkinannya meningkat menjadi sekitar 200 kali lipat dibandingkan dua puluh tahun yang lalu.

Prancis Catat Lonjakan Kematian

Di Perancis, peningkatan jumlah kematian umumnya berlangsung di rumah penduduk, terutama di daerah Ibu Kota Paris.

Di hari Rabu (24/6/2026) telah dilaporkan lebih dari 1.200 kematian, yang selanjutnya naik menjadi di atas 1.400 korban jiwa pada Hari Kamis dan Jumat (25 hingga 26 Juni 2026).

Berdasarkan data, jumlah korban meninggal harian selama bulan April sampai Mei berada di kisaran 900 hingga 1.000 orang.

Badan Kesehatan Masyarakat Prancis mengestimasi setidaknya 1.000 kematian tambahan terjadi selama tiga hari karena gelombang panas itu.

Delapan puluh lima persen dari para korban yang meninggal memiliki usia di atas 65 tahun.

SIAPA: Eropa Mengalami Pemanasan Dua Kali Lipat Lebih Cepat

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut bahwa Eropa adalah benua yang mengalami pemanasan paling cepat di seluruh dunia.

Ia mengungkapkan bahwa tingkat pemanasan di wilayah ini berada pada dua kali kecepatan rata-rata dunia.

"Pada saat ini, 150 juta penduduk tinggal dalam kondisi cuaca sangat panas, ratusan jiwa telah kehilangan nyawa mereka, sekolah-sekolah diliburkan, serta sistem pasokan daya menghadapi kesulitan besar," kata Tedros.

Dia juga menyampaikan bahwa mulai tanggal 21 Juni 2026 sudah terdokumentasi lebih dari 1.300 kematian akibat cuaca panas di Eropa.

Tedros merujuk pada tekanan panas (heat stress) sebagai "pembunuh yang diam" karena sejumlah bangunan seperti rumah, tempat kerja, serta sekolah di Eropa belum dibuat dengan desain yang mampu menahan kondisi cuaca ekstrem saat ini.

Oleh karena itu, WHO menyerukan kepada negara-negara di Eropa untuk meningkatkan kesiapan, pencegahan, serta infrastruktur layanan kesehatan guna menghadapi musim kemarau yang ekstrem.

Infrastruktur Ikut Lumpuh

Panas ekstrem juga menimbulkan berbagai konsekuensi tambahan di beberapa negara.

Dalam kondisi cuaca ekstrem di Swedia dan Denmark, panas berlebih diikuti oleh badai guruh menimbulkan sejumlah luka akibat sengatan petir serta menghasilkan ribuan kilatan petir dalam jangka waktu pendek.

Di Jerman, suhu tinggi menyebabkan terjadinya kebakaran hutan yang luas di wilayah Gohrischheide dan Traisen.

Keadaan menjadi lebih buruk karena adanya peluru aktif dari sisa perang dunia kedua yang meledak akibat api, menyebabkan ribuan penduduk harus dievakuasi.

Kondisi suhu yang sangat tinggi juga menyebabkan peningkatan jumlah permintaan layanan ambulance darurat di ibukota Jerman tersebut.

Sementara itu, pihak kepolisian Berlin mengirimkan kendaraan pemadam api dekat Gerbang Brandenburg guna menurunkan suhu bagi penduduk setempat maupun para turis.

Di sisi lain, pengaruhnya terhadap infrastruktur pun sangat mencolok.

Beberapa permukaan jalan yang terbuat dari beton mengalami keretakan karena cuaca panas.

Kendala listrik serta pohon yang roboh mengganggu perjalanan kereta api, sementara keseluruhan sistem trem di Leipzig terpaksa berhenti akibat kabel penghubung rel mencair karena suhu sangat tinggi.

Sumber : Kompas.com

Post a Comment

Previous Post Next Post