Harga Ayam-Telur Petani Anjlok, Pemerintah Beri Subsidi Jagung 242 Ribu Ton

ANTS.CO.ID - JAKARTA. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mempercayai distribusi jagung pakan dengan subsidi sebagai bentuk dukungan bagi peternak unggas yang sedang mengalami tekanan pada harga ayam dan telur dari sisi produksi.

Pemerintah telah menganggarkan sebesar Rp 678 miliar untuk penyediaan pasokan SPHP berupa jagung pakan sebanyak 242.000 ton pada tahun 2026.

Ketua Bapanas serta Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebutkan bahwa pemerintah sudah memberikan tugas kepada Perum Bulog untuk mendistribusikan sementara sebanyak 213.200 ton jagung pakan dari keseluruhan anggarannya.

"Bila (jagung) sebagai pakan, (telah) kami berikan subsidi. Kita memiliki jagung sebanyak 200 ribu ton (yang) diberi subsidi melalui SPHP. Kami tawarkan kepada peternak dengan harga yang murah," kata Amran dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa, (30/6/2026).

Amran mengatakan bahwa jagung yang didistribusikan berasal dari hasil pembelian pemerintah atas panen para petani setempat, yang selanjutnya disimpan dalam Cadangan Jagung Pemerintah (CJP).

Padi dibeli seharga Rp5.500 per kilogram agar harganya tetap stabil bagi para petani, kemudian didistribusikan lagi kepada peternak saat permintaan pakan naik.

"Bahkan kami membeli dari awal untuk para peternak. Kami melakukan pembelian. Mengumpulkan jagung agar petani dapat menghasilkan secara maksimal. Kami menawarkan harga yang layak yakni Rp5.500 per kilogram. Selanjutnya kami menyimpannya. Ketika para peternak membutuhkannya di musim ini, kami langsung memberikan pasokan," ujar Amran.

Program Pengadaan Pangan Peternakan Jagung sudah berlangsung sejak 9 Mei 2026. Sampai tanggal 29 Juni, pencapaian distribusinya mencapai 55.500 ton atau kira-kira 23% dari target tertinggi sebesar 242.000 ton.

Program ini ditujukan kepada 5.543 petani ayam berbagai ukuran di 26 provinsi yang memiliki jumlah total hingga sekitar 53 juta ekor burung ternak.

Di dalam program tersebut, harga jagung ditentukan sebesar Rp 5.000 per kilogram di gudang Bulog serta tidak lebih dari Rp 5.500 per kilogram pada level peternak.

Di pihak lain, Bapanas menganggap tindakan tersebut penting lantaran harga ayam dan telur pada level peternak masih dalam tekanan.

Kepala SPHP Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyampaikan bahwa harga telur pada level konsumen nasional saat ini tetap berada dalam rentang Harga Acuan Penjualan (HAP), yaitu sekitar Rp 30.000 per kg. Akan tetapi, harga yang didapat oleh para peternak jauh lebih sedikit.

"Meski kemarin telah dilaporkan secara nasional, telur saat ini tetap berada pada harga Rp 30.000 per kilogram atau sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP). Namun jika kita melihat kondisi hari ini di kandang, para peternak menghadapi kesulitan karena harga rata-rata nasional hanya sebesar Rp 21.000. Bahkan hari ini di wilayah Jawa Timur yang merupakan pusat ternak ayam, seperti Blitar dan Magetan, harganya mencapai rata-rata Rp 17.000," kata Maino.

Berdasarkan pendapat Maino, situasi ini mengindikasikan adanya tekanan pada level peternak yang memerlukan campurtangan pemerintah, seperti bantuan subsidi untuk biji jagung sebagai makanan hewan atau meningkatkan daya serap terhadap produksi ternak.

Karena itu, Bapanas menganjurkan pemerintah daerah untuk menyambungkan area yang harganya ayam dan telur masih mahal dengan koperasi atau asosiasi peternak yang memiliki stok tersedia. Tindakan ini diharapkan bisa meningkatkan penyebaran serta menaikkan harga pada level para peternak.

Untuk saudara-saudara di wilayah yang harga komoditas seperti ayam maupun telurnya masih mahal, mohon nantinya kami tautkan dengan koperasi serta organisasi peternak sehingga dapat memperoleh suplai dengan harga yang lebih terjangkau bagi para produsen. Dengan demikian, peternak akan mendapat harga yang layak dan secara otomatis konsumen pun akan menikmati harga yang wajar sesuai Harga Acuan Pasar.

Di samping itu, Bapanas memaksimalkan pemanfaatan dengan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menyerap telur serta ayam secara langsung dari para peternak.

Pemerintah berharap bahwa saat MBG kembali beroperasi secara normal setelah masa liburan sekolah pada pertengahan Juli, permintaan akan produk ayam ternyata naik, yang dapat memperbaiki harga bagi para peternak.

Post a Comment

Previous Post Next Post