Antrean Panjang Truk di SPBU Kalsel, Sopir Rela Menunggu Sejak Pagi untuk Biosolar

Ringkasan Berita:
  • Antrian truck, bis, dan kendaraan umum terjadi setiap harinya dengan durasi yang cukup lama membentang di seluruh jalanan dekat pom bensin.
  • Keadaan ini muncul setelah pemerintah memberlakukan kenaikan harga bahan bakar minyak yang tidak termasuk dalam subsidi.
  • Harganya Dexlite kini berada pada angka Rp24 ribu per liter, jauh lebih mahal dibandingkan biosolar yang dilepas seharga Rp6.800 per liter.

BANJARMASINPOST.CO,ID - Lokasi yang berbeda terjadi di Jalan A Yani KM 5 Banjarmasin, pada hari Minggu tanggal 28 Juni pagi. Antrian kendaraan besar membentang sekitar tiga kilometer.

Ratusan kendaraan truk sedang antri untuk mendapatkan biosolar di stasiun pengisian bahan bakar umum. Para supir bersedia mencari bahan bakar subsidi sejak pagi hari lantaran harga dexlite dirasa sangat tinggi. Mereka lebih memilih menggunakan biosolar yang memiliki biaya yang jauh lebih rendah.

Seperti di pom bensin lainnya di Kalimantan Selatan, keadaan ini menyebabkan antrian kendaraan besar mengisi Biosolar penuh sesak, sedangkan jalur Dexlite terlihat kosong.

"Tidak jarang, tetapi Dexlite harganya tinggi, yaitu Rp 24.000. Jika menggunakan Dexlite, kami tidak mampu," ujar Ahmad, seorang supir truck yang sedang antri di tempat tersebut.

Pengemudi truk mengambil jarak tempuh ke dalam pertimbangan. Perkiraan sederhana menunjukkan bahwa bahkan untuk jarak yang pendek, penggunaan Dexlite terasa memberatkan bagi mereka.

Keadaan yang sama juga terjadi di berbagai pom bensin di Banjarbaru. Pada sebuah SPBU di Jalan A Yani KM 31, Loktabat Selatan, Banjarbaru, antrian truck membentang hingga mencapai jarak satu kilometer.

Bahkan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan sampai ke depan Jalan A Yani, terdapat kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia.

Jumlah antrian semakin meningkat dalam beberapa hari belakangan ini. Sayangnya, manajemen tidak mau memberikan komentar, begitu pun dari pihak PT Pertamina.

Namun keadaan truk yang membentuk antrian hingga mencapai tepi jalan tersebut juga mendapatkan respon dari Satuan Lalu Lintas Polres Banjarbaru.

"Secara prinsip, kami tidak mengizinkan kendaraan diparkir di tengah jalan. Namun masalah ini juga berkaitan dengan kepentingan masyarakat karena antrian biosolar tidak dapat dinilai hanya berdasarkan penerapan peraturan lalu lintas saja," ujar Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Banjarbaru Iptu Tio Septian Dwi Cahyo.

Berdasarkan pengamatan, antrian juga pernah terjadi di Jalan A Yani Sungaiparing Banjar. Meskipun demikian, setelah ditutup menjelang maghrib, secara otomatis antrian kendaraan truk hilang, pada hari Sabtu (27/6).

"Jika bensin habis di pompa bensin, tentu tidak akan ada antrian. Terlebih jika sudah ditutup," ujar Yasir, petugas parkir di sebuah toko yang berada di sebelah pompa bensin tersebut.

Disebutkan oleh Yasir, seorang supir truck bersedia menunggu berjam-jam hanya untuk memperoleh bahan bakar yang didapat dengan subsidi.

"Mereka (sopir truk) memiliki group khusus. Bila ada sebuah pom bensin yang membuka atau menjual solar subsidi, mereka berkomunikasi melalui group tersebut hingga secara cepat kendaraan truk datang mengantri mendapatkan solar subsidi," ujar Yasir.

Keadaan ini juga disampaikan sebagai keluhan oleh beberapa pengemudi di daerah Hulu Sungai Selatan (HSS). Jam kerja mereka terbuang selama bertahun-tahun, bahkan sampai harus bermalam, hanya demi memperoleh kuota Biosolar, yang secara langsung menyebabkan keterlambatan dalam pendistribusian barang serta meningkatnya biaya operasional.

Selain itu, berdasarkan pemantauan di HSS kemarin, beberapa SPBU atau AKR yang biasanya menyediakan fasilitas isi solar telah tutup sejak sekitar pukul 16.00 WITA.

Dihubungi secara terpisah oleh pengawas SPBU Tibung, Candra menyampaikan bahwa biosolar tersedia dari pagi hingga siang hari.

"Masih ada stok, ini sisa dari kemarin saat pemadaman listrik," ujarnya.

Keadaan yang tidak kurang buruk juga dialami oleh Tanahbumbu (Tanbu). Meskipun permintaan sangat tinggi, persediaan Biosolar di SPBU malah habis.

Ini secara langsung dikonfirmasi oleh manajemen SPBU Plajau dan SPBU Kersik Putih yang terletak di kawasan Kecamatan Simpang Empat.

Petugas SPBU Plajau, Karsono, mengatakan bahwa pada masa liburan ini persediaan solar di lokasinya habis karena memang tidak ada jadwal pemasokan.

Dia mengungkapkan bahwa rata-rata pasokan solar subsidi yang diterima dari Pertamina selama ini yaitu 5 tanki per minggu, terdiri atas 3 tanki untuk solar umum atau truk serta 2 tanki solar khusus bagi para nelayan.

Untuk mengidentifikasi dan mencegah tindakan penyalinan bahan bakar atau kendaraan berisi tangki yang dimodifikasi yang antre, petugas SPBU Plajau meningkatkan pengawasan dalam proses layanan di lokasi.

Keadaan habisnya persediaan bahan bakar minyak solar juga dialami oleh Kecamatan Simpang Empat. Petugas SPBU Kersik Putih, Yuyundi, mengatakan bahwa kemarin stock kosong dikarenakan hari Minggu tidak ada pemasaran dari depot Pertamina.

Yuyundi mengatakan bahwa pasokan solar saat ini tetap sama dengan bulan-bulan sebelumnya, tidak terjadi penurunan suplai dari Pertamina. (sai/lis/rin/riz/ady)

Post a Comment

Previous Post Next Post