Top News

Video: Serangan Udara AS ke Target di Iran Diumumkan Trump

ANTS Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan tindakan militer berupa pengeboman terhadap beberapa sasaran di area Iran.

Penganiayaan itu berlangsung saat dua negara sedang direncanakan untuk memasuki babak baru pembicaraan diplomatik menjelang akhir bulan Juni tahun 2026.

Trump mengatakan operasi militer tersebut ditujukan pada berbagai instalasi penting Iran, seperti tempat penampungan misil, gudang pesawat tak berawak, serta menara radar di wilayah pantai.

Ia mengungkapkan bahwa tindakan ini dilakukan sebagai bentuk tanggapan terhadap dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Iran terhadap perjanjian damai yang sebelumnya ditandatangani oleh kedua pihak.

"Pemerintah kami mengambil tindakan sebagai bentuk tanggapan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Iran," ujar Trump.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran dikenal sudah mencapai perjanjian setelah perselisihan yang terjadi pada akhir bulan Februari tahun 2026. Perjanjian ini menjadi awal dari kembali dilakukannya negosiasi tentang program nuklir Iran, penghapusan sanksi ekonomi, serta menjaga keamanan lalu lintas laut di Lautan Hormuz.

Namun, perubahan terkini menunjukkan bahwa kesepakatan ini masih menghadapi hambatan dan belum berhasil mengatasi ketegangan sepenuhnya.

Trump Menyatakan Penentangan Terhadap Program Nuklir Iran

Selain mengumumkan tindakan militer, Trump juga memperkuat pendiriannya tentang kebijakan nuklir Iran. Dengan menggunakan akun media sosialnya bernama Truth Social, dia menyangkal beberapa wacana yang menyatakan bahwa ada perubahan dalam posisi pemerintah Amerika Serikat terhadap Tehran.

"Negara Iran tidak akan pernah memperoleh senjata nuklir," kata Trump.

Trump juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat masih terbuka untuk menggunakan kekuatan militer jika situasi menjadi lebih buruk.

Dia mengingatkan bahwa jika penyelesaikan sengketa dilakukan lewat jalan militer, akibatnya akan sangat berdampak pada Negara Islamic Republic of Iran.

Presiden Amerika Serikat menyampaikan bahwa negaranya bisa sampai pada situasi di mana mereka "tidak lagi mampu berperilaku dengan logis", yang membuatnya cenderung mengakhiri tugas ini melalui tindakan militer karena "cukup kemungkinan Iran tak akan pernah belajar."

Trump selanjutnya mengingatkan bahwa jika Amerika Serikat benar-benar terpaksa melanjutkan operasi militer mereka, "Republik Iran akan hilang."

Serangkaian pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintahan Trump tetap mengadopsi strategi tekanan yang keras terhadap Iran, walaupun jalannya komunikasi diplomatik antar keduanya belum benar-benar berakhir.

(ANTS/YouTube)

Post a Comment

Previous Post Next Post