ANTS, SEMARANG - Peternak ternak sapi di Pasar Johar Semarang menyampaikan keluhan tentang kenaikan harga daging sapi yang terjadi selama kurun waktu sebulan terakhir. Peningkatan harga ini berdampak pada turunnya kemampuan pembelian masyarakat, sehingga volume penjualan juga menurun.
Salah satu penjual daging sapi dan kambing di Pasar Johar, Wartiningsih (65 tahun), menyampaikan bahwa harga daging sapi telah meningkat sejak kurang lebih sebulan yang lalu.
"Meningkat sekitar satu bulan," katanya saat dikunjungi oleh Tribun Jateng di tokonya, Senin (29/6/2026).
Ia mengatakan bahwa harga daging sapi unggulan yang sebelumnya berada di kisaran Rp130 juta sampai Rp135 juta per kilogram kini meningkat hampir Rp10 juta per kilogram, sehingga mencapai sekitar Rp140 juta per kilogram.
"Kini harga daging sapi mencapai Rp140 ribu per kilogram," katanya.
Sedangkan daging sapi normal juga mengalami peningkatan dari Rp110 ribu menjadi Rp120 ribu per kilogram.
Tidak seperti daging sapi, harga daging kambing tetap stabil sekitar Rp150 ribu per kilogram.
"Bila daging kambing lebih mahal, harga mencapai Rp150 ribu per kilogram, tetapi hal ini sudah lama tidak berubah, baik naik maupun turun. Sekitar itu," ujarnya.
Wartiningsih mengira kenaikan harga disebabkan oleh mahalnya harga ternak sapi dari para penyuplai, yang juga terpengaruh oleh biaya pengangkutan.
"Iya, karena itu mungkin pengangkutannya mengalami kenaikan harga bahan bakar. Sapine jadi lebih mahal. Sapine memang yang harganya tinggi," katanya.
Sebelumnya, tambahnya, ia mendapatkan suplai ternak sapi dari kawasan Ampel, Boyolali.
Karena kenaikan harga yang berkelanjutan, jumlah penjualan di tokonya mengalami penurunan signifikan. Sebelumnya dia bisa menjual antara 20 sampai 30 kilogram daging sapi setiap harinya, namun saat ini hanya mencapai sekitar 10 hingga 20 kilogram saja.
"Baru sedikit saja sekarang. Maksimal 10 kg, 20 kg, 15 kg," katanya.
Dia mengakui penurunan jumlah pembeli sebagai masalah terbesar yang dialami para pedagang sekarang.
"Benar, pembelinya memang tidak ada," kata dia.
Walaupun penjualan menurun, Wartiningsih menyatakan tetap menjalankan usahanya. Daging yang tidak laku akan ditempatkan di lemari es untuk mempertahankan mutunya.
"Bila disimpan dalam kulkas, waktunya lebih lama, satu bulan masih baik. Namun jika benda tersebut dikemas dengan benar. Jika dikemas buruk maka tidak akan begitu. Jadi, yang tetap segar dapat bertahan lama saat disimpan (dalam kulkas)," katanya.
Dia menyampaikan bahwa keadaan para pedagang di Pasar Johar tetap berbeda dibanding beberapa wilayah seperti Salatiga dan Magelang yang pernah dilanda aksi pemogohan dagangan oleh para penjual daging sapi.
Ia mengatakan bahwa para pedagang di Semarang tetap melanjutkan usaha jualannya meskipun omzet mereka turun.
"S masih laku ini. Masih terjual. Hanya saja agak sedikit," katanya.
Wartiningsih berharap pemerintah mengambil langkah-langkah untuk membuat situasi pasar menjadi lebih tenang serta membangkitkan kembali kemampuan pembelian masyarakat.
"Waktu itu begitu, intinya pembeli memang seperti itu. Jika sang penjual, yang terpenting adalah adanya pembeli," tambahnya.
Pemilik pedagang daging sapi yang lain di Pasar Johar, Sri Wahyuni (69), juga menyatakan menghadapi situasi yang sama.
Ia mengatakan bahwa harga daging sapi meningkat sekitar Rp10 ribu per kilogram dalam bulan terakhir, sedangkan ketersediaan sapi menjadi lebih susah didapatkan.
"Sapinya sulit sekarang," katanya.
Sri menyampaikan bahwa ternak sapi yang dia jual berasal dari kawasan Ampel, Boyolali. Walaupun tidak perlu memesan beberapa waktu sebelumnya, dirinya mengungkapkan hanya memperoleh stok dalam jumlah kecil lantaran permintaan konsumen semakin berkurang.
"Karena kebutuhan mereka memang sedikit, tidak ada yang membelinya," katanya.
Sekarang, Sri menjual daging sapi dengan harga Rp140.000 per kilogram.
Selain menyediakan daging sapi, Sri juga menawarkan daging kambing. Ia mengatakan bahwa harga daging kambing cenderung tetap berkisar antara Rp140 juta sampai Rp160 juta per kilogram dan tidak mengalami peningkatan seperti pada daging sapi.
"harga daging kambing tetap, ya. tidak naik maupun turun sejak dahulu," ujarnya.
Dia mengakui naiknya harga daging sapi menyebabkan konsumen membatasi pengeluaran mereka akibat biaya yang meningkat.
"Iya, memang sudah lama sepi juga, Bu. Karena pembelinya sedikit," katanya.
Ibu berharap harga daging sapi bisa turun lagi agar kemampuan pembelian warga meningkat dan konsumen mulai kembali membelanjakan uangnya.
"Tinggal berharap menurun," ujarnya dengan singkat.
Walaupun beberapa wilayah memiliki para penjual yang memutuskan untuk tidak lagi menjual karena kesulitan mendapatkan stok serta mahalnya harga, Sri menyampaikan bahwa para pedagang daging sapi di Pasar Johar masih melanjutkan usahanya. Namun demikian, jumlah barang yang dibeli dan laku terjual kini sangat berkurang.
"Iya ambil saja secukupnya. Sepi," katanya.
Di samping itu, Pemerintah Kota Semarang mengungkapkan bahwa harga beberapa jenis kebutuhan pokok di kota tersebut menunjukkan stabilitas dan secara umum tetap berada di bawah batas atas harga eceran yang ditetapkan.
Berdasarkan informasi terkini tentang Perubahan Harga Bahan Pokok di Kota Semarang hingga tanggal 26 Juni 2026, sejumlah kecil komoditas makanan mengalami peningkatan harga, antara lain beras dan daging sapi.
Rata-rata harga daging sapi segar mencapai Rp141.786 per kilogram, sedikit lebih tinggi dari harga eceran maksimum (HET) yang ditetapkan yaitu senilai Rp140.000.
Namun untuk beras kualitas tinggi, harganya berkisar pada angka Rp14.950, sedikit lebih mahal dari Harga Eceran Tertinggi yaitu Rp14.900 per kilogram.
"Semua dalam keadaan aman, beras medium dan premium sedikit meningkat dibandingkan harga eceran tertinggi namun masih dalam kondisi yang aman serta pasokannya tersedia dengan baik," ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Endang Sarwiningsih. (idy)
Post a Comment