Ants.CO.ID, JAKARTA -- Pada abad ke-20, dunia dihebohkan oleh persaingan dalam mendapatkan minyak bumi. Negara-negara kuat menyusun angkatan militer, menurunkan pemerintah, serta menciptakan konsorsium internasional untuk melindungi sumber daya energi ini. Minyak berubah menjadi elemen vital dalam politik global. Siapa yang mengontrol minyak, maka mereka akan memiliki pengaruh signifikan terhadap perekonomian seluruh dunia. Atau: Abad ke-20 merupakan era dimana konflik tentang kepemilikan minyak mewarnai sejarah dunia. Banyak negara besar melakukan pembentukan pasukan tempur, meruntuhkan rezim penguasa, dan membentuk koalisi berskala luas guna memastikan suplai energi fosil tetap aman. Minyak telah menjadi tulang punggung dari dinamika geopolitik masa kini. Penguasaannya memberikan dampak luar biasa pada arah perkembangan ekonomi global.
Namun di abad ke-21, secara bertahap lahir pemahaman baru bahwa terdapat hal yang kemungkinan besar lebih penting dibandingkan minyak. Hal yang lebih fundamental daripada emas, saham, atau teknologi canggih. Sesuatu yang tanpa disadari telah mendukung seluruh peradaban manusia sejak permulaan sejarah: air.
Dulunya, banyak orang hanya memandang air sebagai masalah lingkungan, seperti urusan sungai, waduk, saluran irigasi, atau kebersihan. Namun, beberapa pemikir mulai menyadari bahwa air pada kenyataannya telah berkembang menjadi titik sentral persaingan ekonomi dan politik global saat ini. Salah satu tokoh utama dalam percakapan ini adalah Ismail Serageldin (Wakil Presiden Bank Dunia, lalu memimpin Perpustakaan Alexandria di Mesir). Dia pernah membuat pernyataan yang cukup menantang:
Perang-perang di abad mendatang akan dipicu oleh sumber daya air." "Pertikaian pada masa depan kemungkinan besar berkaitan dengan kekurangan air." "Sumber konflik abad ini diperkirakan akan berasal dari masalah air." "Banyak ahli memprediksi bahwa perang di masa depan akan disebabkan oleh persaingan atas air." "Dalam era yang akan datang, air menjadi faktor utama dalam pertikaian antar negara.
Saat pernyataan tersebut muncul di awal tahun 1990-an, sebagian besar orang merasa pernyataan itu terlalu berlebihan.
Saat itu, dunia tengah larut dalam pemikiran tentang globalisasi, pembukaan pasar dagang, serta antusiasme setelah berakhirnya Perang Dingin. Namun, tiga puluh tahun kemudian, peringatan Serageldin mulai tampak lebih jelas. Coba lihatlah peta dunia pada masa kini.
Mesir dan Mesir serta Ethiopia memperlihatkan perselisihan berkaitan dengan pembangunan bendungan pada Sungai Nil. India dan Pakistan telah lama mengalami ketegangan terkait Sungai Indus. Turki mengendalikan bagian hulu dari sungai Tigris dan Eufrates. Wilayah Gaza sedang menghadapi masalah krisis air yang berlarut-larut. Benua Afrika mengalami perang sengit akibat kondisi kemarau. Bahkan beberapa negara maju juga mulai merasakan tekanan besar dalam penggunaan cadangan airnya. Seluruh dunia semakin menyadari bahwa air tidak hanya merupakan kebutuhan dasar bagi kelangsungan hidup manusia.
Air merupakan faktor penting dalam politik global. Pendapat ini selanjutnya didukung oleh Peter H. Gleick lewat tulisan terkenalnya dengan judul "Water and Conflict: Fresh Water Resources and International Security", yang dimuat di jurnal International Security.
Bila Serageldin menyampaikan peringatan yang signifikan, maka Gleick menerangkan cara kerjanya secara terstruktur. Dia memperlihatkan bahwa air bisa berfungsi sebagai: pemicu perselisihan, senjata perang, sasaran peperangan, hingga korban dari pertempuran tersebut. Ide ini sangat berkaitan erat dengan perang pada masa kini.
Hari ini kita menyaksikan bagaimana sistem pasokan air dapat rusak akibat konflik. Waduk sering digunakan sebagai alat pengaruh politik. Akses terhadap air bisa dipotong guna melemahkan penduduk biasa. Sungai yang melintasi batas negara kini menjadi titik persaingan geopoli tik. Perlahan-lahan, air beralih dari sumber kelangsungan hidup menjadi sarana penguasaan.
Leonardo da Vinci memandang air sebagai kekuatan yang menggerakkan segala sesuatu di alam semesta, sedangkan W H Auden berpesan bahwa meskipun banyak orang bisa bertahan tanpa kasih sayang, tidak ada satupun yang bisa hidup tanpa air. Lao Tzu pernah menyampaikan bahwa tidak ada benda yang lebih lunak dari air, namun juga tidak ada yang mampu mengalahkannya. Di sisi lain, dengan perspektif yang lebih religius, Jalaluddin Rumi merujuk pada manusia bukan hanya sebagai butir air di laut, tapi sebenarnya seluruh samudra terkandung dalam sebuah tetes air saja.
Namun pada zaman yang semakin maju ini, nada refleksi tersebut beralih menjadi nada waspada. Ismail Serageldin memberi peringatan bahwa pertikaian di abad berikutnya akan terkait erat dengan air, sedangkan Peter H. Gleick menerangkan bagaimana air bisa menjadi sarana persaingan serta alat pengaruh, sementara Willem Buiter menilai air sebagai aset fisik yang paling penting dalam waktu depan. Dalam situasi seperti ini, Vandana Shiva mengajak seluruh dunia untuk menyadari bahwa air tidak hanya sekadar barang dagangan, tetapi merupakan inti dari kehidupan itu sendiri.
Ini adalah keanehan utama peradaban modern. Sesuatu yang semestinya menjadi berkah bagi semua malah kini dimperebutkan layaknya alat strategis. Tetapi narasi mengenai air tidak hanya terbatas pada politik dunia dan konflik militer. Pasar keuangan global pun mulai memandang air sebagai wilayah bisnis baru. Inilah saat nama Willem Buiter muncul. Tahun 2011 lalu, ekonom ternama dari Citigroup ini memberikan penelitian yang mengejutkan publik. Ia menyatakan bahwa pasar air kelak akan melebihi harga minyak bumi, pertanian, atau logam mulia.
Pernyataan tersebut terkesan radikal. Namun secara logika cukup sederhana. Minyak tetap memiliki pilihan lain seperti energi matahari, angin, dan nuklir. Logam dapat dipulihkan kembali. Tapi air? Tidak ada substitusi alami yang mampu menggantikan air. Manusia bisa bertahan tanpa ponsel pintar. Bisa juga hidup tanpa kendaraan bermotor. Bahkan bisa berjalan tanpa sistem listrik modern. Namun manusia tidak akan sanggup hidup tanpa air. Oleh karena itu, Buiter memandang air sebagai: aset utama, aset tak ternilai di masa mendatang.
Mungkin ini adalah bagian yang paling menimbulkan kecemasan dalam peradaban kontemporer. Bila air semakin dianggap sebagai modal ekonomi, maka prinsip pasar secara bertahap memengaruhi dasar-dasar kehidupan manusia. Air mulai dikomersialisasi. Harga hak atas air dimungkinkan untuk dibeli dan dijual. Pengalihan kepemilikan air kepada swasta berkembang pesat. Perusahaan besar internasional turun tangan dalam pengelolaan sumber daya air. Bahkan, pasar berjangka air telah muncul di wilayah keuangan global.
Air secara bertahap beralih dari status hak dasar menjadi alat investasi. Inilah titik awal munculnya masalah etis. Ketika air dianggap sepenuhnya sebagai barang dagangan, akses terhadap kebutuhan pokok ini lama kelamaan bergantung pada daya beli seseorang. Orang yang kaya dapat menikmati pasokan air berkualitas, sedangkan orang miskin sulit memperoleh air bersih. Akibatnya, krisis air bertransformasi menjadi krisis ketidakadilan.
Di berbagai situasi, lembaga keuangan global kadang mempromosikan pengalihan kepemilikan sektor air kepada pihak swasta sebagai bagian dari upaya perbaikan ekonomi negara-negara yang sedang berkembang. Argumen mereka tampak masuk akal: peningkatan efisiensi, investasi, dan pembaruan sistem infrastruktur. Namun kenyataan di lapangan sering kali jauh lebih kompleks.
Peristiwa Cochabamba di Bolivia pada tahun 2000 berubah menjadi ikon internasional dari penolakan terhadap pengalihan kepemilikan air ke sektor swasta. Harga tarif meningkat secara signifikan. Masyarakat geram. Puluhan ribu orang turun ke jalan dalam demonstrasi yang sangat besar. Dunia mulai mempertanyakan: apakah air layak dipandang sebagai komoditas bisnis biasa?
Pertanyaan tersebut sebenarnya sangat penting. Karena air tidak sama seperti barang dagangan yang lain. Air merupakan kebutuhan dasar bagi kelangsungan hidup manusia. Mungkin juga karena hal ini, persaingan atas air pada era modern semakin memicu perasaan rentan. Mengapa? Ketika pasokan air mengalami gangguhan, maka bidang-bidang seperti pertanian dan akuakultur akan terkena dampaknya, begitu pula dengan ketersediaan pangan, kesehatan, ekonomi, serta stabilitas masyarakat secara keseluruhan. Air memiliki posisi sentral dalam kehidupan.
Banyak orang terlupakan bahwa keseluruhan perkembangan peradaban umat manusia berawal dari daerah yang dikelilingi oleh air. Sungai Nil menjadi sumber kehidupan bagi Mesir Kuno. Peradaban Mesopotamia muncul di wilayah antara sungai Tigris dan Efrat. Sementara itu, peradaban India bermula di sekitar Sungai Sindhu. Hampir semua kota besar di dunia berkembang di sepanjang aliran sungai maupun tepian pantai.
Sejak awal perkembangan sejarah, umat manusia selalu mencari sumber air terlebih dahulu sebelum membentuk sebuah peradaban. Sebab, air tidak hanya merupakan elemen alami biasa. Air ialah tempat lahir segala bentuk kehidupan. Namun, masyarakat modern justru semakin lupa akan hal tersebut. Sungai dianggap sebagai benda yang bisa dimanfaatkan untuk industri. Danau dianggap sebagai modal finansial. Hutan diratakan tanpa memperhatikan proses lingkungan air. Kota-kota dibangun dengan beton hingga tak ada daerah penyerap air. Pertanian skala besar mengeksploitasi cadangan air tanah dalam jumlah besar. Akibatnya, manusia masa kini telah menyebabkan kontradiksi bagi dirinya sendiri: kemajuan teknologi meningkat pesat, namun masalah kelangkaan air semakin parah.
Banyak kota metropolitan mengalami penurunan tingkat air tanah. Sungai-sungai terkontaminasi oleh limbah. Danau mulai berkurang ukurannya. Kekeringan muncul lebih sering. Banjir menjadi semakin parah. Selanjutnya muncul perang serta perselisihan yang merusak fasilitas pengairan.
Peristiwa di Jalur Gaza menunjukkan betapa air bisa digunakan sebagai sarana pengaruh dalam situasi kemanusiaan. Jaringan sanitasi mengalami kerusakan. Pasokan air minum terbatas. Infrastruktur penyaluran air hancur. Angka penyakit semakin naik. Di wilayah lain, bendungan sering dipergunakan sebagai alat perundingan politik. Sungai yang melintasi batas negara menjadi pemicu persaingan diplomatis.
Ramalan Serageldin secara bertahap mulai mengambil wujudnya. Namun, masalah utama mungkin tidak hanya berkaitan dengan kekurangan air. Masalah besar sebenarnya adalah persepsi manusia terhadap air itu sendiri.
Peradaban kontemporer telah terlalu lama memandang lingkungan hanya sebagai benda yang dapat dieksplorasi. Air dipandang sebagai sumber daya ekonomi. Tanah dilihat sebagai properti perdagangan. Hutan dianggap sebagai persediaan dagang.
Meskipun demikian, manusia sebenarnya bergantung pada keseimbangan ekologis tersebut. Ketika sungai tercemar, manusia sedang membahayakan dirinya sendiri. Bila air dikomersialisasi secara berlebihan, maka manusia tengah menjual hak untuk tetap bertahan hidupnya. Bahkan ketika air digunakan sebagai senjata, manusia sedang melancarkan serangan terhadap dasar-dasar kehidupannya sendiri.
Secara alami, air mempunyai posisi yang jauh lebih tinggi dibanding hanya sebagai barang dagangan. Al-Qur'an mengungkapkan: "Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup dari air" (QS Al-Anbiya: 30).
Ayat ini tidak hanya menyampaikan fakta ilmiah. Di baliknya terkandung visi tentang dunia yang mendalam: bahwa air merupakan dasar dari segala bentuk kehidupan yang dihadirkan oleh Tuhan bagi semua makhluk. Bukan hanya milik kalangan elit ekonomi. Tidak hanya untuk negara-negara besar. Dan juga bukan hanya hak perusahaan-perusahaan internasional. Tetapi semata-mata untuk kehidupan itu sendiri.
Oleh karena itu, dalam prinsip dasar alamiah, air tidak seharusnya hanya dijadikan sebagai sarana perdagangan atau alat pengendalian politik global. Air perlu dilihat sebagai bentuk amanah kolektif yang dilindungi melalui: keadilan, tanggung jawab lingkungan, keseimbangan serta rasa kasih sayang sesama umat manusia. Pengelolaan air dapat dilakukan secara professional. Pemanfaatan teknologi mutakhir bisa digunakan untuk mengelolanya. Dan air juga mungkin menjadi salah satu komponen dalam sistem perekonomian.
Namun demikian, air tidak boleh kehilangan sifat kemanusiawiannya. Karena bila manusia mulai menganggap air hanya sebagai barang dagangan, sebenarnya manusia sedang melangkah jauh dari alamiah hidupnya sendiri.
Mungkin di situlah pembelajaran utama dari Serageldin, Gleick, Buiter, serta prinsip alamiah: bahwa nasib umat manusia bukan sekadar ditentukan oleh siapa yang lebih unggul dalam memperoleh air, melainkan oleh siapa yang paling cerdas dalam merawat air sebagai anugerah bagi kehidupan bersama.
Air adalah pusat dari berbagai aspek: ekologi, geografi politik, pangan, ekonomi, spiritualitas, hingga nasib peradaban di masa depan. Menariknya, semakin berkembang dunia, semakin jelas bahwa hal-hal dasar seperti air, tanah, biji-bijian, udara, serta integritas manusia dalam memanfaatkannya menjadi penentu utama kehidupan. Serageldin melihat air sebagai faktor geopolitik. Gleick memandang air sebagai masalah keamanan. Buiter menggambarkan air sebagai aset ekonomi. Sementara itu, pandangan alami menyebut air sebagai tanggung jawab hidup.
Saat air beralih dari bentuk karunia menjadi barang dagangan, sebenarnya manusia sedang mengalihkan hidup mereka dari alamiah menuju penguasaan. Kebudayaan yang menjual air secara berlebihan pada akhirnya tengah menjual kondisi mendasar untuk kelangsungan hidup manusia.
Post a Comment